Part Time Job di Jepang

Satu hari lagi Ujian Akhir Semester ini akan berakhir, tanda libur musim panas akan segera tiba. Saya sudah memantapkan diri untuk libur musim panas ini tidak pulang ke Indonesia dan fokus di Jepang. Setidaknya ada 2 yang harus saya lakukan, Penelitian Akhir dan Part Time Job. Kali ini saya akan menceritakan sedikit mengenai pengalaman saya part time job di Jepang.

Sebetulnya sudah dari bulan Juni saya mencari kesempatan untuk melakukan part time job, tapi Allah baru izinkan saya mulai di akhir bulan Juli. Di awal2 parttime job (dalam bahasa jepang ‘baito’) saya sangat idealis ingin baito sebagai guru bimbingan belajar bagi siswa siswi SMP SMA Jepang terutama dalam mata pelajaran eksak dan Bahasa Inggris. Setelah melamar kesana kemari, panggilan baito tidak kunjung datang. Setiap saya telfon pun untuk menanyakan jadwal wawancara dan tes, mereka jawab belum bisa ditentukan. Saya pun sedikit curiga dan konsultasi dengan kakak tingkat ‘senpai’ lab Jepang saya. “Yamamoto-san, kenapa ya saya apply jadi katei kyoshi (bimbel privat) atau juku kyoshi (bimbel biasa) selalu ditolak sama perusahaannya?” Tanya saya ke senpai Jepang. Dia menjawab, “Menurut saya karena mereka belum percaya dengan orang asing (gaikokujin) untuk mengajar kepada orang Jepang, takut menurunkan reputasi bimbelnya dan di Jepang masih banyak orang yang kurang simpati (anti) dengan orang asing, apalagi berinteraksi dengan anak2.” Jawabnya. Setelah mendapat jawaban itu akhirnya saya pun dapat memahami mengapa saya tidak mendapat panggilan wawancara dan tes, walaupun saya percaya diri bisa lulus dalam tesnya dengan kemampuan bahasa jepang dan eksak yang saya miliki. Akhirnya saya pun menyerah dan mencari baito yang lain.

Setelah mencari di website dan aplikasi AppStore “townwork”, saya dapatkan peluang bekerja di sebuah kafe yang baru akan dibuka akhir Juli. Saya menanggapinya dengan positif, karena yakin caffe atau kedai kopi tidak akan menjual arak/sake seperti dalam restauran lainnya seperti izakaya/bar. Saya akhirnya melamar dan wawancara.

Setelah beberapa hari, pengumuman pun masuk ke email saya, bahwa saya diterima di kafe tersebut dengan jikyuu/gaji per jam nya 1000 yen. Dan saya ditempatkan dalam bidang kitchen. Sebuah tantangan bagi saya, yang biasanya hanya masak nasi goreng dan goreng2 telor, ayam, harus bisa dengan gesit memotong bahan makanan dan memasak. 

Setelah 5 hari mendapat training dan persiapan, akhirnya Jumat yang lalu Grand Opening Caffe nya. Pengunjung datang membludak ingin mencicipi kopi dan menu2 di kafe tersebut. Saya yang berada di kitchen pun kalang kabut menyiapkan orderan yang berderet panjang. Alhamdulillah, kepala chefnya baik dan selalu mengarahkan saya dengan baik. Saya biasanya mengambil alih dalam membuat menu2 dessert yang manis2 seperti waffle, muffie, dan ice cream. Oh iya, saya baito hanya pada hari jumat sabtu minggu, karena itulah waktu kosong saya dan biasanya 6 sampai 7 jam setiap harinya. 

Kesan saya baito di caffe terutama bagian kitchen, kita harus gerak cepat dan gesit. Mengutamakan orderan pelanggan dan timing adalah yang utama. Timing menggoreng kentang, memasukan adonan waffle ke loyangnya, maupun waktu lamanya dipanaskan dalam microwave. Asik sih bisa mengetahui seluk beluk di dalam dapur sebuah restoran dan bagaimana tata krama/ manner yang baik sebagai chef dan karyawan kafe. Walaupun panas karena selalu dekat mesin penggoreng dan pemanas, tapi saya dapat pengalaman dan meningkatkan skill saya dalam memasak. Sekian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s